Ada berbagai cara dalam mencari berita dan informasi. Seorang jurnalist akan dituntut menggunakan berbagai sarana mulai dari kontak langsung dengan nara sumber atau bahkan melalui telepon. Seorang pejabat di era telekomunikasi sekarang biasanya memiliki telepon seluler khusus untuk kalangan media massa. Akses mereka dibuka karena memang perlu dalam menjelaskan berbagai kebijakan.
Nara sumber baik dari petinggi di swasta atau negeri, yang menjual mahal akses para jurnalis untuk mendapatkan informasi akan menimbulkan persoalan di kemudian hari. Kebijakan dan sikapnya mungkin disalah artikan karena jurnalis yang dihalangi aksesnya menggunakan sumber tidak langsung. Dalam peliputan sekarang, jika muncul masalah maka sumber yang pro dan kontra seharusnya diberi tempat.
Salah satu cara wawancara itu adalah melalui telepon. Baik untuk jurnalis radio, televisi atau cetak wawancara melalui telepon kadang-kadang sangat penting. Beberapa tips dibawah ini mungkin bermanfaat memperlancar wawancara tersebut.
1. Jika Anda pertama kali berbicara dengan nara sumber, perkenalkanlah terlebih dahulu. Misalnya, halo nama saya Anu dari media B. Memperkenalkan nama merupakan langkah pertama mendekati nara sumber. Sapaan kepada nara sumber dengan pangkat, jabatan dan nama kehormatan merupakan pembukaan yang sebaiknya diajukan. Normalnya manusia yang disapa ramah akan menjawab dengan ramah, kecuali nara sumber sedang dalam tekanan.
2. Sesudah memperkenalkan nama dan media Anda, cobalah meminta ijin beberapa menit untuk wawancara. Di tengah kesibukan seorang pejabat atau tokoh, menerima telepon dari media merupakan sebuah peristiwa yang kadang-kadang mengesalkan. Dari sudut pandang nara sumber, wartawan yang menelepon bisa saja dianggap gangguan. Oleh sebab itu cairkanlah dengan meminta ijin “ngobrol” singkat.
3. Setelah ijin diberikan, barulah Anda kemukakan masalahnya. Kira-kira pertanyaan apa saja yang akan diajukan dan ke arah mana perbincangan itu dilakukan. Jangan Anda menekankan pertanyaan sulit terlebih dahulu agar wawancara bisa dimulai. Mulailah dengan pertanyaan umum misalnya apa yang sebenarnya terjadi dengan kecelakaan Adam Air di Yogyakarta? Secara kronologis bila sang dirjen atau kepala bandara memahaminya akan dijelaskan secara singkat dan padat.
4. Jangan lupa juga menyebutkan berapa lama alokasi wawancara Anda. Jika sebuah siaran radio dan televisi untuk direkam, biasanya tidak lebih dari sepuluh menit. Sebuah berita aktual sangat cepat berkembang, jadi wawancara pun dibuat hemat dan menukik pada persoalan.
5. Saat dalam tanya jawab jika terasa kemudian nara sumber enggan melanjutkan, Anda coba cairkan dengan pertanyaan yang tidak berat. Jangan bernada memojokkan dan jangan bernada memaksa. Jika nara sumber kemudian merasa terdesak, Anda segera mencairkan dengan nada yang tidak menekan. Seandainya Anda tidak dapat menangkap suasana hati nara sumber ketika wawancara, bisa jadi telepon tidak lama lagi akan ditutup. Anda kehilangan sumber berita.
6. Sesudah selesai, tata krama yang baik adalah mengucapkan terima kasih. Sebutkan kembali nama dan media Anda bila perlu, sebelum menutup saluran telepon. Jika di tengah jalan terputus karena saluran buruk, Anda telepon kembali untuk sekedar mengucapkan thank you. Bila tidak bisa dihubungi, bisa mengirimkan SMS atau pesan kepada ajudannya.
Ada beberapa lagi tips ketika wawancara dengan nara sumber melalui telepon, namun kita akan sambung lagi dalam perbincangan lainnya.
Sumber: Journalist’s Adventure
0 komentar:
Posting Komentar